I Hate because I care
Yang
paling berharga di dunia ini pun, bisa terlepas dari genggaman tanganku...
Aku
menganggukkan kepala senang. Mataku berbinar-binar setiap kali eomma[1]
mengajakku bermain. Apalagi sekarang malam pertama salju turun.
“Mmmm,
kau harus bersembunyi sebelum omma menemukanmu, mengerti?”
“Ne,
Eomma.” senyumku mengembang, menampakkan gigi kecilku.
Setelah eomma mulai
berhitung, aku berlari mencari tempat persembunyian. “Ah, di sini pasti aman.”
Tubuh kecilku masuk ke dalam lemari pakaian yang tidak terkunci. Sesekali aku
cekikikan “Eomma tidak akan menemukanku di sini. Hihi”
Ting nong... ting nong....
Telingaku samar-samar
bisa mendengar suara bel apartemen tempat tinggalku. “Paling itu Appa[2],”
pikirku dalam hati.
“Aerin ah, Eomma
menyayangimu”
Mataku mengintip ke
arah luar. Netraku sama sekali tidak menemukan sosok eomma di sana.
Cklekk.
Itu pasti eomma yang
keluar dari kamar untuk membukakan pintu untuk appa. Lebih baik aku tetap diam
di dalam lemari sampai eomma kembali. Satu menit dua menit, aku masih bisa
bertahan duduk di dalam lemari. Hingga rasanya dadaku sesak, aku pun keluar dan
menyerah saja.
“Eomma lama sekali,” kesalku.
Kaki kecilku aku bawa menaiki kasur eomma yang empuk.
Dorr...
Aku segera berlari
menuju pintu untuk melihat apa yang terjadi di luar. Tapi, aku sempat ragu
karena eomma berpesan padaku untuk tetap tinggal di dalam kamar apapun yang
terjadi.
Dorr...
Lagi-lagi suara itu
terdengar dari lantai bawah. Rasa khawatirku takut terjadi apa-apa pada eomma
mendorongku untuk keluar dan melihatnya sendiri.
“Ayo, kita pergi dari
sini!”
Aku bisa melihat dua
orang pria yang memakai baju serba hitam melenggang pergi ke arah pintu.
“Eomma...” tangisku
tertahan saat netraku beralih pada eomma yang tergeletak di lantai, bersimpuh
dengan darah. Mulutku aku bungkam agar dua pria tadi tidak melihatku.
“Eomma... Eomma”
batinku. Air mataku mulai mengalir di pipi.
Buru-buru aku turun
menuju tempat di mana eomma tengah tergelatak tak sadarkan diri. Tangan
mungilku berusaha membangunkan eomma yang tertidur.
“Eomma, bangunlah. Tadi
ada dua orang jahat yang kemari, eomma. Aerin takut. Eomma... eomma...”
Aku berbaring di
samping eomma, sambil memeluk tubuhnya yang dingin sedingin lantai yang hanya
menjadi alas tidurku. Mataku baru saja
akan tertidur, terdengar suara orang yang begitu ramai masuk ke dalam
apartemen.
Seorang wanita, kira-kira
seusia dengan eomma, berlari kemudian memelukku erat. Aku hanya bisa diam
sembari menatap eomma yang masih tertidur.
“Eomma, bangunlah! Lihat!
Banyak orang yang datang,” kataku polos.

Komentar
Posting Komentar